Monday, February 25, 2019

Pertemuan ke - 2


MK. AGRIBISNIS PETERNAKAN
Nama              : Meilinda Sari
NIM                 : 160321100007
Kelas               : AGRIPET – B
Perkuliahan Tanggal 13.02.2019 ( 10.40-12.20)

Pertemuan ke _2
PERAN DAN FUNGSI AGRIBISNIS DALAM PEREKONOMIAN NASIONAL
Materi pembelajaran :

ü  Pendahuluan
ü  Peran pertanian sebagai produsen bahan pangan dan serat.
ü  Peran pertanian sebagai produsen bahan baku industry.
ü  Peran pertanian sebagai sumber perolehan devisa.
ü  Peran pertanian untuk mengurangi kemiskinan.
ü  Peran pertanian dalam pelestarian lingkungan.

Pendahuluan :
      Pertanian adalah unit produksi   biologis primer berbasis lahan
      Output utama pertanian adalah bahan pangan dan serat
      Dewasa ini pertanian dikembangkan sebagai pemasok sumber bioenergi
      Implikasi permasalahan à persaingan kepentingan: pangan vs bahan baku industri vs bahan baku bioenergi
      Kendala utama à keterbatasan lahan
      masalah pertanian:
      respon input-input:
      lahan vs tenaga kerja
      lahan vs pupuk, pestisida
      lahan vs irigasi
      lahan vs elemen klimatologi à biodiversitas
      respon output-output:
      lahan vs pilihan komoditas
      lahan vs pilihan alternatif fungsi
      respon input-output à multiple effect
      Pengukuran atas peranan suatu sektor dalam perekonomian dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja, kontribusi terhadap penciptaan PDB (produk domestik bruto), kontribusi terhadap ekspor serta kontribusi terhadap konsumsi masyarakat.
Penyerapan Tenaga Kerja
      Daya serap sektor pertanian terhadap tenaga kerja cukup besar.
      Penyerapan sektor pertanian:
     tidak memerlukan kualifikasi keterampilan khusus dan level pendidikan formal tertentu
     signifikan dalam jumlah
     dipengaruhi oleh man-land ratio
Peran GDP Sektor Pertanian

Data Biro Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 6 Agustus 2018 menunjukkan kontribusi sektor pertanian dalam menyumbang pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Triwulan II 2018 naik dibandingkan Triwulan I 2018 sebesar 9,93 persen. Kontribusi sektor pertanian ini, merupakan yang tertinggi dibanding dengan sektor lain, seperti jasa perusahaan yang hanya 3,37 persen dan jasa lainnya 3,30 persen. Berdasarkan BPS pada triwulan II 2018, dapat disimpulkan bahwa sektor pertanian mengalami pertumbuhan dan meningkat. Adapun peningkatan tersebut yg utama pada tanaman hortikultura, khususnya produksi sayuran dan buah-buahan serta peternakan pada produk unggas.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tersebut, yakni : pertama, puncak panen raya padi terjadi pada Maret 2018 dan masih berlangsung hingga akhir triwulan II/2018. Kedua, cuaca yang lebih kondusif dibanding 2017 menyebabkan produksi sayur-sayuran dan buah-buahan meningkat. Ketiga, pengembangan teknologi budi daya dan pakan mandiri memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan produksi perikanan budi daya. Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Viva Yoga Mauladi menilai pertumbuan ekonomi yang dipacu sektor pertanian sangat signifikan. Hal tersebut membuktikan jika pergerakan pertanian Indonesia tumbuh dengan pesat dan pertumbuhan pada segala varietas pertanian.

Penyerapan Tenaga Kerja pada tahun 2004 – 2014
Sebagai  negara  agraris  dan  negara  maritim  yang  besar,  sektor  pertanian dalam  arti  yang  luas  (termasuk pertanian  tanaman  pangan,  perkebunan, peternakan,  perikanan,  dan  kehutanan)  merupakan  sumber pendapatan  sekaligus sumber  mata  pencaharian  bagi  sebagian  besar  penduduk  Indonesia.  Data menunjukkan  telah  terjadi  penurunan  tingkat  penyerapan  tenaga  kerja  di  sektor petanian  dalam  arti  luas, yaitu  dari  sekitar  44,51%  pada  tahun  2004,  menjadi sekitar 34,28%  pada tahun 2014 (Gambar  2).  Hasil analisis ini sejalan dengan hasil kajian  Kasryno  dan  Soeparno  (2012)  yang  menggunakan  data  BPS  periode tahun 1993–2010 yang juga menyatakan bahwa peran sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja di Jawa cenderung menurun.

Perpindahan  tenaga  kerja  pertanian  ke  nonpertanian  dipengaruhi  oleh berbagai faktor, baik faktor ekonomi maupun faktor nonekonomi. Hasil kajian Tocco et  al (2012)  menunjukkan  bahwa  ada  lima  kelompok  faktor yang  memengaruhi keputusan  untuk  pindah  pekerjaan  dari  sektor  pertanian  ke  sektor  nonpertanian, yaitu (1)  karakteristik  individu  (umur,  pendidikan,  pengalaman,  jender,  status perkawinan, dan suku bangsa), (2)karakteristik keluarga (jumlah anak, umur anak,dan ukuran keluarga), (3) karakteristik usaha pertanian (ukuran penguasaan lahan, ukuran  usaha  tani,  output  pertanian,  sistem  usaha  tani,  dan  produktivitas pertanian),  (4) karakteristik  finansial  (pendapatan  di  luar  pekerjaan,  subsidi pertanian, manfaat sosial,  dan pendapatan tidak tetap),  dan (5) karakteristik lokasi dan  pasar  tenaga  kerja  (tingkat  penyerapan  tenaga  kerja,  akses terhadappekerjaan, kepadatan penduduk, urbanisasi, dan lokasi wilayah).

Berdasarkan gambar.3   diketahui  bahwa  sumbangan  sektor  pertanian  dalam  arti  luas  pada PDB  Nasional relatif  tetap,  yaitu  sekitar  14%  pada  periode  2004–2013.  Kondisi  ini mengindikasikan  adanya kecenderungan  peningkatan  produktivitas  tenaga  kerja  di sektor  pertanian.



Sektor  pertanian  dalam  arti  luas  pada  periode  2004–2014  menyerap  sekitar 35–45%  dari angkatan kerja di Indonesia. Gambar  5  menunjukkan  bahwa  subsektor  tanaman  pangan  menyerap sebagian  besar  tenaga kerja  pertanian,  yaitu  54,73%  pada  tahun  2007,  turun menjadi 46,35%  pada tahun 2011. Subsektor yang menyerap tenaga kerja terbesar kedua  adalah  subsektor  perkebunan,  yaitu  28,48%  pada  tahun  2007,  naik menjadi 33%  pada  tahun  2011.  Meningkatnya  penyerapan  tenaga  kerja  di  subsektor perkebunan  ini diduga  erat kaitannya  dengan  semakin  berkembangnya  investasi pada subsektor perkebunan, terutama perkebunan kelapa sawit. Subsektor  peternakan  merupakan  subsektor  yang  menyerap  tenaga  kerja terbesar ketiga,  yaitu  naik  dari  9,89%  pada  tahun  2007  menjadi  11,51%  pada tahun  2011.  Meningkatnya penyerapan  tenaga  kerja  di  subsektor  petern akan  ini diduga erat kaitannya dengan berkembangnya produksi hasil peternakan, utamanya peternakan unggas. Subsektor  hortikultura,  walaupun  merupakan  subsektor  yang menyerap sedikit tenaga kerja, yaitu 6,90% pada tahun 2007, tetapi pertumbuhan penyerapan tenaga  kerja  di subsektor  ini  cukup  pesat,  yaitu  dengan  menyerap  tenaga  kerja sebesar 9,91% pada tahun 2011. Kondisi ini juga mengindikasikan berkembangnya agribisnis hortikultura di perdesaan.



Kontribusi Data Ekspor Pertanian 


Kinerja ekonomi RI pada triwulan II 2017 berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 3.366,8 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan II-2017 dibandingkan triwulan II-2016 tumbuh 5,01 persen dan dibandingkan triwulan I-2017 tumbuh sebesar 4,00 persen. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), bila dilihat dari sisi produksi, sektor pertanian merupakan sektor kedua yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, setelah industri pengolahan, dan masih di atas sektor perdagangan dan konstruksi. Untuk triwulan II-2017 ini, sektor pertanian dalam arti luas menyumbang sebanyak 13,92 persen, sementara pada triwulan-I 2017 kontribusinya 13,59 persen. 


Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi kali ini cukup baik. “Kita cuma di bawah Cina 6,9 persen. Dengan kondisi ketidakpastian perekonomian global dan penurunan harga komoditas, hasil ini cukup bagus,” ucap Suhariyanto pada saat konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (7/8) pagi.  Apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sektor pertanian menjadi sektor yang memiliki pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 8,44 persen. Peningkatan ini diperoleh dari meningkatnya produksi dari sejumlah komoditas tanaman perkebunan seperti kopi dan tebu serta dari hortikultura. Pertumbuhan di sektor pertanian ini tidak lepas dari berbagai program Pemerintah guna mewujudkan swasembada sejumlah komoditas pertanian strategis dengan menetapkan visi Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045.



Pada periode tahun 2018 sampai dengan bulan Agustus, terjadi peningkatan jumlah komoditas sarang burung walet, sapi donggala, getah pinus, jagung dan peti kemas kayu. Tercatat tren peningkatan lalu lintas sarang burung walet tahun 2017 frekwensi 682 kali, 26,762 ton dibandingkan tahun 2018 sampai dengan bulan Agustus dengan frekwensi 550 kali, 22,776 ton. Selain itu, pelepasan ekspor perdana ke berbagai negara juga tengah menjadi tren. Sampai dengan bulan Agustus 2018 untuk masing-masing komoditas getah pinus sebanyak 40 kali total 3.300 ton, peti kemas kayu sebanyak 72.000 meter kubik, dan jagung sebanyak 3 kali dengan total 10.000 ton. Khusus untuk jagung, Menteri Pertanian secara khusus sempat menyambangi Kabupaten Tojo Una Una pada akhir Juli lalu dan melihat Pelabuhan Ampana punya potensi besar untuk mengekspor jagung hasil petani Sulteng ke Filipina secara langsung.


Sumber :
Pranadji , Tri dan Hardono, Gatoet Sroe. Dinamika Penyerapan Tenaga Kerja Pertanian. Panel Petani Nasional: Mobilisasi Sumber Daya dan Penguatan Kelembagaan Pertanian

http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3376