MK. AGRIBISNIS PETERNAKAN
Nama :
Meilinda Sari
NIM :
160321100007
Kelas
: AGRIPET – B
Perkuliahan Tanggal 13.02.2019 ( 10.40-12.20)
Pertemuan ke _2
PERAN DAN FUNGSI AGRIBISNIS DALAM
PEREKONOMIAN NASIONAL
Materi pembelajaran :
ü Pendahuluan
ü Peran pertanian sebagai produsen bahan pangan
dan serat.
ü Peran pertanian sebagai produsen bahan baku industry.
ü Peran pertanian sebagai sumber perolehan
devisa.
ü Peran pertanian untuk mengurangi kemiskinan.
ü Peran pertanian dalam pelestarian lingkungan.
Pendahuluan :
• Pertanian adalah
unit produksi biologis primer berbasis
lahan
• Output utama
pertanian adalah bahan pangan dan serat
• Dewasa ini
pertanian dikembangkan sebagai pemasok sumber bioenergi
• Implikasi
permasalahan à persaingan
kepentingan: pangan vs bahan baku industri vs bahan baku bioenergi
• Kendala utama à keterbatasan lahan
• masalah pertanian:
• respon input-input:
• lahan vs tenaga kerja
• lahan vs pupuk, pestisida
• lahan vs irigasi
• lahan vs elemen klimatologi à biodiversitas
• respon output-output:
• lahan vs pilihan komoditas
• lahan vs pilihan alternatif fungsi
• respon input-output à multiple effect
• Pengukuran atas peranan
suatu sektor dalam perekonomian dapat dilihat dari penyerapan tenaga kerja,
kontribusi terhadap penciptaan PDB (produk domestik bruto), kontribusi terhadap
ekspor serta kontribusi terhadap konsumsi masyarakat.
Penyerapan Tenaga Kerja
• Daya serap sektor pertanian terhadap tenaga kerja cukup besar.
• Penyerapan sektor pertanian:
– tidak memerlukan kualifikasi keterampilan
khusus dan level pendidikan formal tertentu
– signifikan dalam jumlah
– dipengaruhi oleh man-land ratio
Peran GDP Sektor Pertanian
Data Biro Pusat Statistik (BPS) yang dirilis 6 Agustus 2018 menunjukkan kontribusi sektor pertanian dalam menyumbang pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Triwulan II 2018 naik dibandingkan Triwulan I 2018 sebesar 9,93 persen. Kontribusi sektor pertanian ini, merupakan yang tertinggi dibanding dengan sektor lain, seperti jasa perusahaan yang hanya 3,37 persen dan jasa lainnya 3,30 persen. Berdasarkan BPS pada triwulan II 2018, dapat disimpulkan bahwa sektor pertanian mengalami pertumbuhan dan meningkat. Adapun peningkatan tersebut yg utama pada tanaman hortikultura, khususnya produksi sayuran dan buah-buahan serta peternakan pada produk unggas.
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tersebut, yakni : pertama, puncak panen raya padi terjadi pada Maret 2018 dan masih berlangsung hingga akhir triwulan II/2018. Kedua, cuaca yang lebih kondusif dibanding 2017 menyebabkan produksi sayur-sayuran dan buah-buahan meningkat. Ketiga, pengembangan teknologi budi daya dan pakan mandiri memberikan pengaruh positif terhadap peningkatan produksi perikanan budi daya. Wakil Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Viva Yoga Mauladi menilai pertumbuan ekonomi yang dipacu sektor pertanian sangat signifikan. Hal tersebut membuktikan jika pergerakan pertanian Indonesia tumbuh dengan pesat dan pertumbuhan pada segala varietas pertanian.
Penyerapan
Tenaga Kerja pada tahun 2004 – 2014
Sebagai negara agraris dan negara maritim yang besar, sektor pertanian
dalam arti yang luas (termasuk pertanian tanaman pangan, perkebunan,
peternakan, perikanan, dan kehutanan) merupakan sumber pendapatan sekaligus
sumber mata pencaharian bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Data
menunjukkan telah terjadi penurunan tingkat penyerapan tenaga kerja di sektor
petanian dalam arti luas, yaitu dari sekitar 44,51% pada tahun 2004, menjadi
sekitar 34,28% pada tahun 2014
(Gambar 2). Hasil analisis ini sejalan dengan hasil
kajian Kasryno dan Soeparno (2012) yang menggunakan data BPS periode tahun
1993–2010 yang juga menyatakan bahwa peran sektor pertanian dalam penyerapan
tenaga kerja di Jawa cenderung menurun.
Perpindahan tenaga kerja pertanian ke nonpertanian dipengaruhi oleh
berbagai faktor, baik faktor ekonomi maupun faktor nonekonomi. Hasil kajian
Tocco et al (2012) menunjukkan bahwa ada lima kelompok faktor yang memengaruhi
keputusan untuk pindah pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor nonpertanian,
yaitu (1) karakteristik individu (umur, pendidikan, pengalaman, jender, status
perkawinan, dan suku bangsa), (2)karakteristik keluarga (jumlah anak, umur
anak,dan ukuran keluarga), (3) karakteristik usaha pertanian (ukuran penguasaan
lahan,
ukuran usaha tani, output pertanian, sistem usaha tani, dan produktivitas
pertanian), (4) karakteristik finansial (pendapatan di luar pekerjaan, subsidi
pertanian, manfaat sosial, dan pendapatan tidak
tetap), dan (5) karakteristik
lokasi dan pasar tenaga kerja (tingkat penyerapan tenaga kerja, akses terhadappekerjaan,
kepadatan penduduk, urbanisasi, dan lokasi wilayah).
Berdasarkan
gambar.3 diketahui bahwa sumbangan sektor pertanian dalam arti luas pada
PDB Nasional relatif tetap, yaitu sekitar 14% pada periode 2004–2013. Kondisi ini
mengindikasikan adanya kecenderungan peningkatan produktivitas tenaga kerja di
sektor pertanian.
Sektor pertanian dalam arti luas pada periode 2004–2014 menyerap sekitar
35–45% dari angkatan kerja di Indonesia. Gambar 5 menunjukkan bahwa subsektor tanaman pangan menyerap
sebagian besar tenaga kerja pertanian, yaitu 54,73% pada tahun 2007, turun
menjadi 46,35% pada tahun 2011. Subsektor yang menyerap tenaga kerja
terbesar kedua adalah subsektor perkebunan, yaitu 28,48% pada tahun 2007, naik menjadi
33% pada tahun 2011. Meningkatnya penyerapan tenaga kerja di subsektor
perkebunan ini diduga erat
kaitannya dengan semakin berkembangnya investasi
pada subsektor perkebunan, terutama perkebunan kelapa
sawit. Subsektor peternakan merupakan subsektor yang menyerap tenaga kerja
terbesar ketiga, yaitu naik dari 9,89% pada tahun 2007 menjadi 11,51% pada
tahun 2011. Meningkatnya penyerapan tenaga kerja di subsektor petern
akan ini diduga erat kaitannya dengan berkembangnya produksi hasil
peternakan, utamanya peternakan unggas.
Subsektor hortikultura, walaupun merupakan subsektor yang menyerap
sedikit tenaga kerja, yaitu 6,90% pada tahun 2007, tetapi pertumbuhan
penyerapan tenaga kerja di subsektor ini cukup pesat, yaitu dengan menyerap tenaga kerja
sebesar 9,91% pada tahun 2011. Kondisi ini juga mengindikasikan
berkembangnya agribisnis hortikultura di perdesaan.
Kontribusi Data Ekspor Pertanian
Kontribusi Data Ekspor Pertanian
Kinerja ekonomi RI pada triwulan II 2017 berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 3.366,8 triliun. Ekonomi Indonesia triwulan II-2017 dibandingkan triwulan II-2016 tumbuh 5,01 persen dan dibandingkan triwulan I-2017 tumbuh sebesar 4,00 persen. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), bila dilihat dari sisi produksi, sektor pertanian merupakan sektor kedua yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, setelah industri pengolahan, dan masih di atas sektor perdagangan dan konstruksi. Untuk triwulan II-2017 ini, sektor pertanian dalam arti luas menyumbang sebanyak 13,92 persen, sementara pada triwulan-I 2017 kontribusinya 13,59 persen.
Kepala BPS Suhariyanto menyebutkan bahwa pencapaian pertumbuhan ekonomi kali ini cukup baik. “Kita cuma di bawah Cina 6,9 persen. Dengan kondisi ketidakpastian perekonomian global dan penurunan harga komoditas, hasil ini cukup bagus,” ucap Suhariyanto pada saat konferensi pers di Kantor BPS, Jakarta, Senin (7/8) pagi. Apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sektor pertanian menjadi sektor yang memiliki pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 8,44 persen. Peningkatan ini diperoleh dari meningkatnya produksi dari sejumlah komoditas tanaman perkebunan seperti kopi dan tebu serta dari hortikultura. Pertumbuhan di sektor pertanian ini tidak lepas dari berbagai program Pemerintah guna mewujudkan swasembada sejumlah komoditas pertanian strategis dengan menetapkan visi Indonesia menjadi Lumbung Pangan Dunia pada tahun 2045.
Pada periode tahun 2018 sampai dengan bulan Agustus, terjadi peningkatan jumlah komoditas sarang burung walet, sapi donggala, getah pinus, jagung dan peti kemas kayu. Tercatat tren peningkatan lalu lintas sarang burung walet tahun 2017 frekwensi 682 kali, 26,762 ton dibandingkan tahun 2018 sampai dengan bulan Agustus dengan frekwensi 550 kali, 22,776 ton. Selain itu, pelepasan ekspor perdana ke berbagai negara juga tengah menjadi tren. Sampai dengan bulan Agustus 2018 untuk masing-masing komoditas getah pinus sebanyak 40 kali total 3.300 ton, peti kemas kayu sebanyak 72.000 meter kubik, dan jagung sebanyak 3 kali dengan total 10.000 ton. Khusus untuk jagung, Menteri Pertanian secara khusus sempat menyambangi Kabupaten Tojo Una Una pada akhir Juli lalu dan melihat Pelabuhan Ampana punya potensi besar untuk mengekspor jagung hasil petani Sulteng ke Filipina secara langsung.
Sumber :
Pranadji , Tri dan Hardono, Gatoet Sroe.
Dinamika Penyerapan Tenaga Kerja Pertanian. Panel Petani Nasional: Mobilisasi
Sumber Daya dan Penguatan Kelembagaan Pertanian
http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3376