Monday, February 18, 2019

Pertemuan ke-1


MK. AGRIBISNIS PETERNAKAN
Nama                         : Meilinda Sari
NIM                 : 160321100007
Kelas              : AGRIPET – B
Perkuliahan Tanggal 13.02.2019 ( 10.40-12.20)

Materi 14 pertemuan
1.    Pendahuluan
2.    Peran &fngsi agribisnis peternakan dan perekonomian Indonesia.
3.    Sistem agribisnis (pakan ternak)
4.    Manajemen produksi peernakan
5.    Pengendalian proses produksi
6.    Pemasaran dan distribusi produk pertanian
7.    Manajemen pengelola resiko dan analisis usaha
UTS
8.    Review materi UTS
9.    Studi kasus ternak sapi pedaging
10. Studi kasus ternak sapi perah
11. Studi kasus ternak kambing dan domba
12. Studi kasus ternak ayam pedaging
13. Studi kasus ternak ayam petelur
14. Studi kasus ternak hewan
Petanian , pertanian secara luas yaitu demua tercangkup kegiatan pertanian (tanaman pangan dan holtikultura ) perkebunan, kehutanan, dan peternakan sedangkan pertanian, secara sempit yaitu budidaya tanaman.
Agribisnis adalah usaha komersial dalam bidang perdagangan pertanian. Suatu usaha bertujuan untuk mendapatkan keuntungan pada bidang pertanian (agro industry dari hulu ke hilir serta pemasaran dan jasa penunjang) bidang yang berhubungan dnegan pertanian dalam arti luas (pertanian pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan.)
<pertanian bukan lagi sebgai way of live tetapi merupakan usaha yang memberikan keuntungan >

AGRIBISNIS PETERNAKAN
Adalah sebuah sistem pengelolaan ternak secara terpadu dan menyeluruh. Yang meliputi semua kegiatan mulai pembuatan (manufaktur) dan distribusi sarana produksi ternak , kegiatan usaha produksi (budidaya), penyimpanan dan pengolahan. Pemasaran produk peternkan yang di dukung oleh lembaga penunjang seperti perbankkan dan pemerintah
3 sektor agribisnis :
1. the input supply sector
2. the farm production sector
3. the product marketing sector
TUGAS
DATA TERKAIT AGRIBISNIS PETERNAKAN
      Agribisnis berasal dari kata Agri dan Bisnis. Agri berasal dari kata Agricultural ( pertanian). Bisnis berarti usaha komersial dalam dunia perdagangan.
      Agribisnis = suatu usaha bertujuan utk mendapatkan keuntungan pada bidang pertanian (agroindustri hulu & hilir serta pemasaran & jasa penunjang) & bidang yg berhubungan dgn pertanian dlm arti luas (pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan & kehutanan)
      Agribisnis peternakan = sebuah sistem pengelolaan ternak secara terpadu & menyeluruh yg meliputi semua kegiatan mulai dr pembuatan (manufacture) dan distribusi sarana produksi ternak (sapronak), kegiatan usaha produksi (budidaya), penyimpanan & pengolahan, serta penyaluran & pemasaran produk peternakan yg didukung oleh lembaga penunjang seperti perbankan & kebijakan pemerintah
      Sektor agribisnis itu ada 3, yaitu
·         The input supply sector atau sektor pemasok input pertanian adalah sektor yang memberikan pasokan bahan dan peralatan pertanian untuk beroperasinya the farm  production sector. Sektor ini memasok pakan ternak atau  ikan, benih atau bibit, pupuk,     bahan bakar minyak, alat  pertanian, peptisida dsb.
·         The farm production sector  atau sektor budidaya  pertanian merupakan sektor yang mengubah input  pertanian menjadi output atau   komoditas primer hasil pertanian. Sektor ini meliputi pertanian dalam arti luas yaitu budidaya tanaman, peternakan, perikanan dan kehutanan. Komoditas primer yang dihasilkan oleh sektor ini  adalah bahan pangan ( jagung, padi, kedelai), daging, ikan, telur, susu, sayur atau hortikultura dan kayu.
·         The product marketing sector atau pemasaran hasil  pertanian yang melibatkan individu atau perusahaan yang menangani dan mengolah komoditas primer hasil budidaya pertanian sampai ke konsumen akhir.
  

TINJAUAN AGRIBISNIS PETERNAKAN

Oleh: R.Eviyati 1) Abstrak
Potensi sub sektor peternakan mendapat porsi cukup besar untuk berkembang. Pengembangan agribisnis peternakan mencakup semua kegiatan yang dimulai dengan pengadaan dan pengaturan sarana produksi, produksi usahatani dan pemasaran, serta produk usahatani atau hasil olahannya. Pengembangan agribisnis memerlukan penanganan subsistem yang ada di dalamnya seperti perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Agribisnis peternakan harus dipandang sebagai suatu sistem penyeluruh yang meliputi lahan, pembibitan, budidaya, industri pengolahan hasil peternakan dan berbagai usaha pendukung peternakan yang memang sudah saatnya tumbuh dan berkembang.

Key Words : peternakan, agribisnis, manajemen




I.   PENDAHULUAN


Sektor agribisnis merupakan sektor yang cukup potensial dan telah membuktikan di- rinya sebagai salah satu sektor yang mampu bertahan serta tumbuh selama krisis yang melanda Indonesia. Pada dasarnya, Indonesia mempunyai potensi yang sangat besar di bidang agribisnis, terbukti dari ketersediaan sumberdaya alamnya yang berlimpah, lokasi wilayah Indonesia yang strategis di pasar dunia, serta masih terbuka luasnya prospek pasar agribisnis, baik ditingkat nasional maupun internasional. Agribisnis  peternakan di Indonesia mempunyai potensi yang baik dimana konstribusi sub sektor peternakan terhadap sektor pertanian dan produk domestik bruto pada tahun 2001 masing-masing adalah 11% dan 1,9%.


Komoditi peternakan dikenal sebagai komoditas yang memiliki banyak manfaat. Produk utama ternak (daging, susu dan telur) merupakan sumber bahan pangan yang bergizi tinggi.
Salah satu tantangan besar yang di- harapkan sektor peternakan saat ini adalah laju kosumsi protein hewani asal ternak yaitu 2,89 gram / kapita / hari. (berasal dari konsumsi 2,45 kg daging, 0,82 kg telur dan 0,47 kg susu) dibandingkan dengan tingkat konsumsi di negara maju seperti Singapura, Jepang dan AS masing-masing 22,69;53,50 dan 73 gram / ka- pita / hari .
Dalam rangka memacu pertumbuhan pro- duksi peternakan nasional, seharusnya per- tanian harus lebih difokuskan kepada usaha peternakan rakyat dan ternak lokal Pada umumnya ternak-ternak yang dipelihara pada usaha peternakan raktyat adalah ternak- ternak lokal. Ternak lokal merupakan sumber- daya ternak yang sudah lama dipelihara pe- ternak pedesaan dan berperan dalam men- dukung ekonomi rumah tangga peternak. Oleh karena itu usaha peternakan rakyat yang seha- rusnya menjadi basis pengembangan peter- nakan nasional.

II.      ARTI DAN RUANG LINGKUP AGRIBISNIS PETERNAKAN


Agribisnis peternakan mencakup semua ke- giatan yang dimulai dengan pengadaan dan penyaluran sarana produksi, produksi usa- hatani / ternak dan pemasaran produk usaha tani / ternak atau hasil olahannya. Kegiatan ini mempunyai hubungan yang erat sehingga gangguan pada salah satu kegiatan akan ber- pengaruh terhadap kelancaran seluruh kegiatan dalam bisnis. Agribisnis peternakan di atas tampak pada Gambar 1.

       Pengadaan dan penyaluran sarana produksi


Sarana produksi peternakan antara lain, benih bibit makanan ternak, pupuk, obat pemberantas hama dan penyakit, kredit, bahan bakar. Pelaku kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah perorangan, perusahaan swasta, lembaga pemerintah, ko- perasi.

      Usaha tani / ternak


Usaha tani / ternak menghasilkan pu-puk- pupuk pertanian berupa bahan pangan, hasil perkebunan, buah-buahan, bunga, tanaman hi-as, hasil ternak, hewan, dan ikan. Pelaku- pelaku kegiatannya yaitu produsen-produsen yang terdiri dari petani, peternak, pengusaha tambak, pengusaha tanaman hias.

      Pemasaran


Adapun rangkaian kegiatan yang dilakukan disini yaitu mulai dari pengumpulan produk, pengolahan, penyimpanan dan distribusi Sebagian dari produk yang dihasilkan usa- hatani didistribusikan langsung ke konsumen, dan sebagian mengalami pengolahan  lebih dulu lalu didistribusikan ke konsumen. Pelaku- pelaku dalam kegiatan disini yaitu pengumpul produk, pengolah produk, pedagang, penyalur ke konsumen pembuat peti dan kaleng pem- bungkus produk olahan.

III.    ASPEK-ASPEK AGRIBISNIS YANG MEMERLUKAN MANAJEMEN


Dalam usaha Agribisnis memerlukan mana- jemen yang baik untuk penyelenggaraannya harus diperhatikan yaitu pemasaran dimana akan menentukan wajah atau citra usaha Agribisnis/ perusahaan dalam menentukan ke- langsungan usaha bisnis perusahaannya ter- sebut untuk masa selanjutnya.

      Perencanaan (planning)

Fungsinya perencanaan yaitu mencakup kegiatan yang berhubungan dengan masa yang akan datang. Perencanaan terdapat di setiap sub sistem Agribisnis

Pengorganisasian (organizing)

Fungsi pengorganisasian ini yaitu penyu- sunan struktur organisasi bisnis/ perusaha-an, penetapan personalia dan penetapan tugas serta wewenang masing-masing kelompok menurut tata organisasi yang baik.
Dengan demikian bahwa pengorga-nisasian merupakan alat yang terpenting untuk menca- pai tujuan usaha bisnis/perusahaan.


      Penggerakan (Directing)

Fungsi penggerakan ini adalah untuk men- dorong, motivasi dan merangsang gairah kerja diantara anggota kelompok sehingga mereka dapat terpanggil untuk melaksanakan tugas sebaik-baiknya.

      Pengawasan


Fungsi pengawasan yaitu meliputi ke-giatan evaluasi dan koreksi, apakah rencana dan proses kerja yang sedang dilakukan selaras dengan tujuan yang telah ditetapkan se- belumnya. Apakah terdapat hasil yang me- nyimpang dan makin jauh dari sasaran yang telah ditargetkan maka segera dilakukan tindakan koreksi bim-bingan dan pembinaan.

IV.     MANAJEMEN PRODUKSI


Produksi adalah seperangkat prosedur dan kegiatan yang terjadi dalam penciptaan produk atau jasa. Dengan pengertian ini manajemen produksi mencakup dalam pengambilan kepu- tusan sebagai langkah untuk persiapan pro- duksi dan untuk proses produksi yang sedang dilakukan.
Manajemen produksi ini memerlukan pe- rencanaan, antara lain yang harus diperhatikan adalah :
1.        Perencanaan produk peternakan, yang da- pat menghasilkan produkl-produk seperti yang berikut ini : (1)Ternak itik itu sendiri (ternak untuk bibit, ternak untuk ternak


hias, untuk itik misalnya ternak muda, ternak siap potong / jual). (2) Daging diperoleh dari ternak besar serta kecil, unggas dan ternak tua, produk yang dipakai untuk pengawetan daging seperti, dendeng, abon.(3) Telur, diperoleh dari ayam ras petelur, ayam buras, itik. (4) Susu (produk dari sapi perah), termasuk produk olah-annya seperti mentega, keju, produksi susu dari kerbau perah, kambing perah. (5) Beberapa hasil ikutan / sampingan dari peternakan seperti kulit, tulang, paruh, tanduk, bulu dan hasil pengo-lahannya seperti kulit samak, tepung tulang.dan (6) Madu dan sarang wallet.
Untuk mendapatkan produk-produk di atas, maka harus mengusahakan bidang usaha pe- ternakan yang meliputi pembibitan, pengem- bangbiakan, penggemukan, pengolahan dan pemasaran hasil dan pro-dusen peternakan.

2.        Perencanaan lokasi peternakan

Secara teknis, pemilihan lokasi menjadi bahan pertimbangan seorang pimpinan agri- bisnis. Sumber bahan mentah/persediaan, tersedianya tenaga kerja, lokasi pasar, dan perangsang khusus yang tersedia di suatu tempat hendaknya (1) sesuai dengan lokasi yang ditentukan oleh pemerintah daerah setempat, (2). lokasi sosial dan masyarakat setempat tidak bertentangan dengan ketertiban dan ke-pentingan umum, (2) tidak terletak di


pusat kota, lokasi peternakan hendaknya lebih tinggi dari daerah sekitarnya, (3) untuk ke- lancaran proses produksi maka lokasinya sebaiknya berdekatan dengan produsen/ pabrik pakan ternak, (4) memiliki tanah yang subur untuk tumbuhnya hijauan pakan ternak, (5) dekat dengan pasar/konsumen dan berdekatan dengan sentral produksi komoditi peter- nakan/sentral populasi ternak, dan (6) sesuai dengan wilayah pengembangan usaha peter- nakan, wilayah penyebaran industri komoditi pe-ternakan dan wilayah pengembangan ex- port komoditi peternakan

3.     Perencanaan standar mutu produk peternakan

Adanya perencanaan standar mutu produk pe- ternakan ini adalah untuk menyajikan produk dengan mutu yang sebaik mungkin/memenuhu syarat minimal selera atau kemauan kon- sumen/-pasar, dan strategi untuk tidak ke- tinggalan oleh konsumen/pasar, memper- mudah pemilihan bahan-bahan yang diper- lukan untuk produksi, pengendalian atau pengawasan atas mutu produk yang harus dilakukan.

V.     PENGENDALIAN PROSES PRODUKSI DALAM AGRIBISNIS PETERNAKAN


      Jenis

Hewan ternak dapat dikelompokkan men- jadi beberapa golongan seperti berikut ini :


a)      Golongan ruminansia


Golongan ruminansia dikelompokan lagi menjadi dua, yaitu ruminansia besar dan ruminansia kecil. Jenis ruminansia besar diantaranya sapi perah, pekerja, dan potong  dan kerbau. Jenis. Ruminansia kecil misal- nya domba dan kambing.

b)      Golongan unggas

Golongan unggas ini antara lain ayam (ras dan buras), itik, entok, dan mer- pati.

c)      Golongan aneka ternak

Golongan ini antara lain meliputi pu- yuh, marmot, kelinci,dan kuda.

      Sifat

Adapun sifat dari komoditi peternakan antara lain seperti berikut ini.
a)      Tidak tergantung musim
b)       Dipengaruhi jarak antara lokasi usaha konsumen
c)       Tidak mudah rusak
d)         Resiko tinggi
Ternak hidup mempunyai sifat tidak mudah rusak. Biasanya pengiriman ternak jarang se- kali yang dalam bentuk daging potong, mak- sudnya di sini bukan dalam bentuk ternak hidup. Oleh karena itu, komoditi ternak hidup tidak mudah rusak. Berlainan dengan sifat yang diambil produknya (misalnya susu).
Komoditi     ternak    yang    dalam    sifat pengiriman ternaknya tidak mudah rusak bila kita lihat dalam jenis-jenis ternaknya, resiko pemeliharaannya bervariasi. Sebenarnya se- mua jenis ternak mempunyai resiko, tetapi untuk jenis-jenis yang besar seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba, resikonya lebih rendah dari pada jenis ternak kecil seperti ayam dan puyuh.

d)       Perputaran modalnya bervariasi
Perputaran modal dalam bisnis komoditi ternak bervariasi tergantung dari jenis ternak yang diusahakan.

e)         Keuntungan suplai
Produk ternak atau ternak hidup dapat dijual kapan saja karena setiap saat kon- sumen membutuhkan produk dari peter- nakan itu.

      Budi daya


Budi daya harus dapat berjalan ber-iringan dengan pemasaran. Maksud-nya, dari budi daya diharapkan bisa diperoleh hasil produksi berupa ternak, daging, telur, atau susu; atau bisa pula hasil ikutan dan olahan peternakan yang berkualitas baik. , pemasaran yang akan menyalurkan produk-produk di atas ke tangan konsumen atau pasar. Bila target budi daya terpenuhi, pemasaran pun akan melakukan fungsinya dengan baik.
Berikut ini akan dikemukakan ke empat faktor budi daya di atas juga akan diuraikan mengenai budi daya untuk memenuhi pasaran rutin, non-rutin, dan trend.



a)       Pemilihan bibit ternak yang meliputi :


1)       asal-usul/silsilah ternak termasuk bangsa ternak
2)       kapasitas produksi (umur, pertambahan berat, produksi daging, lemak, dan seba- gainya)
3)       kapasitas reproduksi (kesuburan ternak, jumlah anak yang lahir dan hidup normal, umur pertama kawin, siklus birahi, lama bun-ting, keadaan waktu melahirkan, ke- mampuan membesarkan anak, dan se- bagainya), dan
4)       tingkat kesehatan ternak


b)     Cara pemberian ransom


Diartikan sebagai bahan makanan, yang disediakan untuk ternak, yang disusun/dicam- pur mengikuti aturan tertentu. Bahan makanan (bahan yang dapat di-makan, dicerna, dan digunakan oleh ternak) bisa terdiri dari :

1)             hijauan (rumput segar, daun kacang- kacangan segar, daun lamtoro segar , hijauan kering/hay, rumput kering, tepung daun lamtoro ) .
2)             konsentrat (bahan makanan, yang di- gunakan bersama bahan makanan lain, untuk disatukan atau dicampur sebagai
suplemen (pelengkap) atau makanan leng- kap): jagung, bungkil kelapa, tepung ikan.

c)     Memperkecil ongkos produksi



Pada bagian awal telah diungkapkan bahwa makanan ternak merupakan faktor industri yang menuntut biaya paling besar: 60-80%  dari ongkos produksi. Oleh karena itu. Cara pemberian ransum harus memungkinkan untuk memperkecil ongkos produksi ini. Untuk itu, kita harus melakukan beberapa hal sebagai berikut.

1)       Mengusahakan agar ransum yang kita susun memenuhi persyaratan, baik dari segi teknis maupun eko-nomisnya.
2)       Mengurangi kemungkinan peng-hamburan ransum.

d)     Pengendalian penyakit


Pengendalian penyakit dimaksud-kan untuk menjauhkan dan membebaskan ternak dari penyakit. Ada dua sarana produksi peternakan (sapronak) yang biasa digunakan yaitu vaksin dan obat-obatan.

e)     Pascapanen


Daging, telur, dan susu secara umum meru- pakan produk peternakan yang mudah rusak. Hal ini karena ketiganya merupakan medium yang amat cocok untuk berkem-bangbiaknya mikroba perusak, antar lain bakteri. Beberapa diantaranya sebagai berikut.
a)              Daging yang tidak ditangani secara baik akan cepat mengalami pembusukan oleh bakteri. Telur yang kemasukan bakteri (lewat pori-pori kerabangnya) akan ber-


kurang nilai gizinya, juga juga dapat berubah warna, bau, dan rasanya.
b)             Susu dapat menjadi asam dan tidak higienis lagi karena bakteri.

Ditjen Peternakan (1999) mencatat bahwa tingkat kerusakan ketiga komoditas peternakan di atas masih cukup tinggi: daging 5-10%,  telur 15-20%, dan susu 5-12%.
Hal-hal yang dipaparkan di atas menun- jukan bahwa pasca panen peternakan haruslah ditangani secara tepat sesuai dengan jenis produknya. Untuk itu, di pihak produsen perlu suatu sikap: pencapaian produk dengan standar mutu tertentu perlu ditargetkan dan mutu produk senantiasa dijaga sebelum sampai ke konsumen atau pasaran.

a) Produk hidup (ternak)


1)       Untuk mengurangi pencemaran daging ternak, ada yang harus diperhatikan.
Pada ayam ras pedaging:
- Ayam tidak lagi  di  beri  obat-obatan satu minggu sebelum dijual.
- Delapan jam sebelum ayam  dijual, ransum tidak diberikan lagi kecuali air minum
2)       Untuk memperkecil penyusutan berat badan ayam selama pengangkutan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
-          Pengeluaran ayam  dari   kandang sebaiknya di malam hari
-          Ayam jangan diperlakukan secara kasar


-          Pengangkutan yang dilakukan di siang hari dengan jarak yang jauh akan menambah penyusutan berat hidup.
3)       Untuk pengiriman ke tempat pemasaran, ayam hanya dapat bertahan maksimum dua hari. Lebih dari ini bisa fatal akibatnya.

b). Produk segar (raw material)

1)       Daging
Untuk memperlambat pembusukan daging:
-          Ternak yang akan dipotong sebaiknya diistirahatkan terlebih dahulu.
-          Daging digantung di kamar pen- dingan (suhu 35 F) selama 1-6 minggu (proses ini disebut ageing).

Untuk mengempukan daging:
-          Cara mekanis: dipukul, dipotong, dicacah, dan digiling.
-          Cara kimia: dengan garam
-          Cara biologi : dengan enzim (bromelin dari nenas, papain dari papaya, dan tripsin dari pancreas).

2)     Telur
Salah satu cara untuk memper-tahankan mutu telur adalah pengawetan. Caranya sebagai berikut.
-          Merendam telur segar di dalam cairan yang dapat menutup pori-pori kera- bang telur. Cairan ini antara lain larutan air kapur, larutan air garam, ekstrak babakan, kulit akasia, dan ekstrak daun jambu biji. Selain sebagai pengawet, cairan ini juga bersifat an- tiseptic. Menyimpan telur dalam ruangan pendingi -          (cold storage), temperatur berkisar antara (-0,5)- (-2,2) C

3. Susu
Untuk mencegah pembiakan bakteri di dalam susu (agar susu tidak cepat membusuk dan tidak berpenyakit), tindakan yang harus dilakukan adalah pemasakan susu: suhu di bawah titik didih, saat susu mengembang harus diangkat. atau dengan pasteurisasi susu dan sterilisasi.

c.     Produk awetan

1)       Secara tradisional:
Hasil olahan daging secara tradisional antara lain dendeng dan abon.
2)       Secara modern:
Daging dapat diolah, yaitu dengan cara pengalengan (caning). Hasilnya berupa daging dalam kaleng (misalnya corned beef)

VI.     PENUTUP


Pengembangan agribisnis peternakan di Indonesia dapat memberikan harapan yang baik, karena keberhasilan dalam kegiatan pembangunan peternakan khususnya pening- katan produksi .


Seperti kita ketahui alam tropis Indonesia menyediakan sumber daya yang bervariasi dan tersebar di seluruh kepulauan dengan jumlah penduduk yang sangat besar, khususnya petani. Dalam pengembangan-pengembangan agri- bisnis                 peternakan    ini         sebaiknya        dijalin keterkaitan yang menyeluruh supaya dapat mencapai sasaran pembangunan yang direnca- nakan yaitu peningkatan produksi, peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, pemerataan pembangunan dan peningkatan ekspor. Na- mun demikian perlu ditunjang juga oleh mo- dal, teknologi, keterampilan pasca panen dan
pemasaran.


DAFTAR PUSTAKA


Cook, M.L dan M.E. Bredahl (2000) Agribusiness Competiveness in the 1990, Discussion, American Journal of Agricultural Economics 73 (5) 1472-
1473.

Ditjen Peternakan. (1999), Kebijaksanaan Operasional Pembangunan Peter- nakan. Jakarta.

Mc. Gregor, M.J (2000), A System View of Agribusiness, Journal Agri-business (1 dan 2), 1-8.

Rahardi.F., Iman satyawibawa, Rina Gunawan (2000). Agribisnis Peternakan, Penebar swadaya , Jakarta.

Saragih, B (2001), Tantangan dan Strategi Pengembangan Agribisnis Indonesia, Journal Agribisnis 1 (1 dan 2) 16-20.

Soekartawi.  (1995).   Pengantar  agribisnis, Rajawali Press. Cetakan III, Jakarta





Perkembangan Ekspor - Impor
Subsektor Peternakan Desember 2017
Edisi : 01/eksim/02/2018
1.Volume ekspor subsektor peternakan Desember 2017 menurun dibanding November 2017. Namun, pada Januari–Desember 2017 volume ekspor meningkat dibanding periode yang sama tahun 2016.
2.Volume impor subsektor peternakan Desember 2017 menurun dibanding November 2017. Namun, pada Januari–Desember 2017 volume impor meningkat dibanding periode yang sama tahun 2016.
 3.Nilai dan volume neraca perdagangan subsektor peternakan Desember 2016 terhadap 2017 menunjukkan penurunan defisit. Demikian juga pada periode Januari–Desember 2017 terhadap periode yang sama tahun 2016, volume neraca perdagangan mengalami penurunan defisit, namun dari sisi nilai mengalami peningkatan defisit.
A. PERKEMBANGAN EKSPOR
Volume ekspor subsektor peternakan Desember 2017 mencapai 17,38 ribu ton atau menurun 25,71 persen dibanding November 2017 dan dibanding Desember 2016 juga mengalami penurunan sebesar 5,83 persen. Sejalan dengan volume ekspor, nilai ekspor subsektor peternakan pada Desember 2017 juga mengalami penurunan sebesar 11,56 persen dibanding November 2017, namun dibanding Desember 2016 meningkat sebesar 4,89 persen. Menurut pengelompokan subsektor peternakan, volume ekspor subsektor peternakan pada Desember 2017 dibanding November 2017 semua kelompok mengalami penurunan. Begitupun, apabila dibandingkan dengan Desember 2016 pada semua kelompok mengalami penurunan kecuali kelompok.


Menurut pengelompokan subsektor peternakan, volume ekspor periode Januari–Desember 2017 dibanding periode yang sama tahun 2016 mengalami peningkatan pada semua kelompok kecuali pada produk hewani non pangan dan obat hewan mengalami penurunan masing-masing sebesar 14,87 dan 10,94 persen.
Perkembangan share volume ekspor subsektor peternakan untuk Januari–Desember 2016 dan 2017 peningkatan pada semua kelompok kecuali pada produk hewani non pangan dan obat
hewan mengalami penurunan masing-masing sebesar 14,87 dan 10,94 persen. Perkembangan share volume ekspor subsektor peternakan untuk Januari–Desember 2016 dibanding tahun 2017 tersaji pada Grafik 1. Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari–Desember 2017, kontribusi terbesar pada kelompok hasil ternak sebesar 64,07 persen, sementara kelompok obat hewan sebesar 0,24 persen merupakan kontribusi terkecil. Apabila dibandingkan dengan tahun 2016, kontribusi pada masing-masing kelompok mengalami penurunan kecuali kelompok lain-lain.
B. PERKEMBANGAN IMPOR

Volume impor subsektor peternakan Desember 2017 mencapai 129,01 ribu ton atau menurun 5,22 persen dibanding November 2017, begitupun dibanding Desember 2016 menurun sebesar
24,72 persen. Seiring dengan volume impor, nilai impor subsektor peternakan Desember 2017 juga mengalami penurunan sebesar 7,53 persen dibanding November 2017, begitupun dibanding Desember 2016 menurun sebesar 29,81 persen. Berdasarkan pengelompokan subsektor peternakan,volume impor Desember terhadap November 2017 pada semua kelompok mengalami penurunan kecuali kelompok obat hewan meningkat sebesar 15,26 persen.


Secara kumulatif volume impor subsektor peternakan Januari–Desember 2017 dibanding periode yang sama tahun 2016 meningkat sedikit sekitar 0,22 persen yaitu mencapai 1.648,69 ribu ton dari 1.645,12 ribu ton. Seiring dengan volume impor, dari sisi nilai juga mengalami peningkatan sekitar 5 persen yaitu US$3.371,50 juta dari US$ 3.190,96 juta.

Menurut pengelompokan subsektor peternakan, peningkatan tertinggi volume impor periode Januari–Desember 2017 dibanding periode yang sama tahun 2016 terjadi pada kelompok produk hewani non pangan mencapai 118,76 ribu ton dari 95,24 ribu ton (naik 24,69 persen), sementara penurunan hanya terjadi pada kelompok ternak mencapai 169,21 ribu ton dari 195,84 ribu ton (turun 13,60 persen). Dilihat dari kontribusinya terhadap impor keseluruhan Januari–Desember 2017, kontribusi terbesar pada kelompok lain-lain sebesar 46,91 persen, sementara kelompok obat hewan sebesar 0,10 persen merupakan kontribusi terkecil. Perkembangan share volume impor subsektor peternakan untuk Januari–Desember 2016 dibanding periode yang sama tahun 2017.

Sumber : http://ekafitriani120.blogspot.com/2016/03/pengertian-dan-sistem-pencernaan-hewan.html?m=1

No comments:

Post a Comment